"TEKS BIOGRAFI YASSER ARAFAT"
TEKS BIOGRAFI
“Yasser
Arafat”
Yasser
Arafat adalah Presiden Palestina yang berjuang untuk memperjuangkan kemerdekaan
di Palestina.Dia juga Ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO),Presiden
Otoritas Nasional Palestina (PNA),pemimpin partai politik,dan mantan pasukan
milisi “Fatah”,yang ia dirikan pada tahun 1959.Dia lahir pada tanggal 24
agustus 1929 di Kairo.Arafat adalah anak kelima dari tujuh bersaudara.Beliau
beragama Islam Sunni.Ayahnya bernama Abdel Raouf al-Qudwa al-Husseini,ia adalah
seorang Palestina dari Kota Gaza.Ia bekerja sebagai seorang pedagang kain di
distrik El-Sakakini,sebuah distrik yang ditinggali oleh orang-orang dari
berbagai macam agama.Ibunya bernama Zahwa Abdul Saud,lahir dari sebuah keluarga
yang berasal dari Yerusalem,ia wafat pada tahun 1933 karena penyakit
ginjal,saat Arafat berusia empat tahun.
Kunjungan pertama Arafat ke Yerusalem terjadi saat ayahnya,
yang tidak mampu membesarkan tujuh orang anak sendirian, mengirimnya dan Fathi
ke keluarga ibu mereka di Kampung Maroko,yang
terletak di dalam Kota Lama.Kedua
bocah itu tinggal bersama paman mereka, Salim Abul Saud selama empat tahun.
Pada 1937, ayah mereka memanggil pulang keduanya untuk dibesarkan oleh saudara
perempuan mereka, Inam. Arafat mengalami hubungan yang kurang harmonis dengan
ayahnya. Saat ayahnya wafat pada tahun 1952, Arafat tidak menghadiri
pemakamannya, dan juga tidak mengunjungi makamnya setelah kembali ke Gaza.Pada 1944, Arafat masuk ke Universitas Raja Fuad I dan lulus enam tahun kemudian.Dia mengatakan bahwa pemahamannya tentang Yudaisme dan Zionisme-nya semakin meningkat setelah terlibat dalam diskusi dengan beberapa orang Yahudi. Selama Perang Arab-Israel 1948,Arafat meninggalkan kampusnya dan berusaha memasuki Palestina bersama pemuda-pemuda Arab lainnya, bergabung dengan pasukan Arab yang sedang bertempur melawan tentara Israel. Tetapi, ketimbang bergabung dengan fedayeen,Arafat memilih bertempur dengan pasukan Ikhwanul Muslimin,walaupun dia tidak bergabung dengan organisasinya.Dia ikut serta dalam pertempuran di sekitar Gaza (yang menjadi padang tempur utama pasukan Mesir selama perang). Setelah kembali ke kampusnya, Arafat melanjutkan kembali kuliah teknik sipil-nya dan terpilih menjadi ketua umum Persatuan Mahasiswa Palestina dari tahun 1952 hingga 1956. Pada tahun pertamanya sebagai ketua umum persatuan tersebut, universitasnya berubah nama menjadi Universitas Kairo setelah sebuah kudeta militer berhasil menurunkan Raja Farouk. Saat itu, Arafat telah bergelar sarjana teknik sipil dan dipanggil untuk ikut bertempur bersama pasukan Mesir di Krisis Suez;tetapi, dia tidak pernah benar-benar ikut bertempur.
Setelah krisis di Suez pada tahun 1956, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser mengizinkan Pasukan Darurat Perserikatan Bangsa-bangsa untuk beroperasi di Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza, menyebabkan pengusiran seluruh pasukan gerilya fedayeen di sana, termasuk Arafat.Sementara Arafat mulai bergaul dengan para pengungsi Palestina (sebagian telah pernah dia temui saat tinggal di Kairo), dia dan lainnya secara bertahap mendirikan sebuah pergerakan bernama Fatah.
Perjuangan Bersenjata di Suriah.Pada 1962, Arafat dan sahabat-sahabat dekatnya pindah ke Suriah (negara yang berbatasan darat dengan Israel), yang baru saja melepaskan diri dari persatuan dengan Mesir pimpinan Nasser. Fatah telah mempunyai kira-kira tiga ribu anggota pada saat itu, tetapi tidak ada seorangpun yang merupakan petempur.Di Suriah, dia berusaha untuk merekrut anggota dengan menawarkan penghasilan tinggi bagi mereka, untuk mewujudkan cita-cita perjuangan bersenjatanya ke Israel. Di Yordania,pada akhir 1960an, ketegangan antara warga Palestina dan pemerintah Yordania mulai memuncak kelompok-kelompok bersenjata Palestina telah membuat keadaan "negara dalam negara" di Yordania, dan menguasai beberapa posisi strategis. Setelah memproklamasikan kemenangan di Karameh, Fatah dan milisi Palestina lainnya mulai menguasai kehidupan publik di Yordania.
Dua peristiwa utama terjadi pada 1972. Organisasi cabang Fatah, Black September membajak sebuah penerbangan Sabena dalam perjalanan ke Wina, dan memaksanya mendarat di Bandar Udara Internasional Ben Gurion di Lod, Israel. PFLP dan Tentara Merah Jepang melakukan penembakan di bandar udara yang sama, membunuh dua puluh empat warga sipil.Israel kemudian mengklaim bahwa pembunuhan juru bicara PFLP Ghassan Kanafani merupakan pembalasan atas keterlibatan PFLP dalam merancang serangan sebelumnya. Dua hari kemudian, berbagai faksi PLO membalas dengan meledakkan sebuah terminal bus, membunuh sebelas warga sipil. “Tujuan dasar kami adalah untuk membebaskan wilayah dari Laut Mediterania hingga Sungai Yordan. Kami tidak peduli dengan apa yang trjadi pada Juni 1967 atau mengeliminasi konsekuensi perang pada bulan Juni. Perjanjian Oslo. Pada awal 1990an, Arafat dan para pemimpin Fatah lainnya mulai terlibat dalam serangkaian perundingan rahasia dengan Israel, yang membuahkan Perjanjian Oslo pada 1993.



